Dilihat 122 Medan | Gooberita – Batu beterbangan. Gas air mata menyengat mata dan pernapasan. Di tengah kerumunan massa yang berdesakan, seorang wartawan tetap berusaha bertahan demi mendapatkan informasi dan mengabadikan peristiwa yang sedang terjadi. Itulah salah satu pengalaman pahit yang pernah dialami Rizal Rudi Surya (56) ketika menjalankan tugas jurnalistik meliput aksi unjuk rasa pada 1998. Rizal mengisahkan pengalaman tersebut saat berbincang dengan awak media, Kamis (9/10/2026). Ia mengaku pernah menjadi sasaran lemparan batu hingga terkena semprotan gas air mata ketika menjalankan tugas sebagai wartawan. Namun, pengalaman pahit itu tidak pernah membuatnya meninggalkan dunia jurnalistik. Sebaliknya, peristiwa tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang jurnalis yang hingga kini masih setia dengan profesinya. Bagi Rizal, jurnalistik bukan sekadar pekerjaan. Ada kecintaan yang membuatnya mampu bertahan selama puluhan tahun di tengah dinamika dunia pers yang terus berubah. Kini, pria berkacamata yang dikenal murah senyum itu dipercaya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Analisa, sekaligus menjadi penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan Ahli Pers Sumatera Utara. Berawal dari Bangku Sekolah Kecintaan Rizal terhadap dunia jurnalistik ternyata bukan sesuatu yang baru muncul ketika dirinya memasuki dunia kerja. Sejak masih duduk di bangku sekolah, khususnya ketika menempuh pendidikan SMA, ia sudah memiliki ketertarikan yang kuat terhadap dunia tulis-menulis dan jurnalistik. Bahkan, ketika masih menjadi siswa SMA, tulisan beritanya sudah pernah dimuat atau ditayangkan oleh salah satu media cetak yang terbit di Kota Medan. Dari situlah kecintaannya terhadap dunia jurnalistik semakin tumbuh. Setelah menamatkan SMA, Rizal melanjutkan pendidikan ke Universitas Sumatera Utara (USU) dan mengambil jurusan Hukum. Selepas menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, ia sempat menekuni profesi sebagai pengacara. Namun, ada sesuatu yang terus memanggilnya. Jiwa menulis dan kecintaannya terhadap dunia jurnalistik ternyata lebih kuat. Profesi pengacara akhirnya ditinggalkan. Rizal kemudian memilih kembali ke dunia yang sejak lama dicintainya. Ia melamar dan mengikuti proses testing di Harian Analisa Medan. Perjuangannya membuahkan hasil. Rizal diterima bekerja di media tersebut. Dari situlah perjalanan panjangnya sebagai wartawan profesional dimulai hingga bertahan selama sekitar tiga dekade. Tiga Puluh Tahun Menjaga Pena Selama kurang lebih 30 tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, tentu bukan sedikit pengalaman yang telah dilalui Rizal. Ada suka. Ada duka. Ada tantangan. Bahkan ada situasi yang mengancam keselamatan ketika menjalankan tugas. Namun, semua itu menjadi warna dalam perjalanan profesinya. Ia tetap bertahan dan hingga kini masih bekerja di Harian Analisa. Bagi Rizal, menjadi wartawan memberikan pengalaman yang tidak selalu bisa ditemukan dalam profesi lain. Banyak tempat yang dapat dikunjungi, banyak orang yang ditemui, serta banyak cerita kehidupan yang bisa didengar dan dituliskan. Dengan senyum khasnya, Rizal bahkan memiliki cara sederhana menggambarkan kesenangannya menjadi wartawan. “Kalau jadi wartawan itu enak. Selain banyak pengalaman dan kawan, jadi wartawan itu bisa bepergian dengan gratis,” ujarnya sambil tersenyum. Kalimat itu disampaikannya dengan nada ringan. Tetapi di balik senyum tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang wartawan yang telah melewati berbagai zaman dan perubahan dunia pers. Batu, Gas Air Mata dan Sebuah Pilihan Peristiwa 1998 menjadi salah satu bagian paling membekas dalam perjalanan jurnalistik Rizal. Saat itu, ia menjalankan tugas meliput aksi unjuk rasa. Situasi di lapangan tidak selalu bersahabat bagi para jurnalis. Di tengah suasana yang penuh ketegangan, lemparan batu dan gas air mata menjadi risiko yang harus dihadapi. Rizal mengalaminya secara langsung. Ia pernah dilempari batu dan terkena semprotan gas air mata ketika menjalankan tugas jurnalistik. Tetapi setelah peristiwa itu berlalu, ia tidak memilih mundur. Pena tetap digenggam. Profesi wartawan tetap dijalani. Bahkan puluhan tahun kemudian, Rizal masih berada di dunia jurnalistik dan dipercaya menduduki sejumlah posisi penting di bidang pers. Perjalanan itu menjadi gambaran bahwa profesi wartawan tidak selalu tentang kamera, buku catatan, mikrofon, atau mengejar narasumber. Di balik sebuah berita, terkadang ada keberanian, keteguhan dan risiko yang harus dibayar seorang wartawan. Dari Medan hingga India Perjalanan Rizal sebagai insan pers juga membawanya bertemu dengan banyak orang dan pengalaman di berbagai tempat. Kemampuannya berbahasa Inggris turut mendukung aktivitasnya dalam dunia jurnalistik. Pada 2023, ia bahkan berkesempatan mengikuti kegiatan jurnalistik di India. Pengalaman tersebut tentu menambah wawasan dan memperkaya perjalanan profesionalnya sebagai wartawan. Kini, setelah sekitar 30 tahun menekuni jurnalistik, Rizal bukan hanya menjalankan tugas sebagai wartawan. Pengalamannya juga membuatnya dipercaya menjadi penguji UKW dan Ahli Pers Sumatera Utara. Posisi tersebut sekaligus menempatkannya pada peran yang lebih luas, yakni ikut memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada para wartawan yang ingin meningkatkan kompetensi jurnalistiknya. Perjalanan Rizal Rudi Surya menunjukkan bahwa menjadi wartawan bukan sekadar memilih sebuah pekerjaan. Ada kecintaan yang membuat seseorang bertahan. Dari bangku SMA, ketika tulisannya mulai mendapat tempat di media cetak, hingga memasuki dunia profesional dan melewati berbagai peristiwa besar, Rizal tetap memilih jurnalistik. Bahkan ketika pernah berprofesi sebagai pengacara, panggilan sebagai penulis akhirnya membawanya kembali ke dunia pers. Tiga puluh tahun telah berlalu. Batu dan gas air mata tinggal menjadi bagian dari kenangan. Tetapi kecintaannya terhadap jurnalistik masih tetap menyala. Kini, di usia 56 tahun, Rizal Rudi Surya masih berdiri di antara barisan insan pers, membawa pengalaman panjang yang tidak hanya berbicara tentang berita, tetapi juga tentang keberanian, ketekunan dan pilihan untuk tetap setia pada profesi yang dicintainya. Sebab, bagi seorang wartawan, sebuah berita mungkin selesai ketika diterbitkan. Namun perjalanan untuk mendapatkan berita itulah yang sering kali meninggalkan cerita paling panjang. (Done) Navigasi pos Rapimnas DMDI Indonesia, Said Aldi Al Idrus: DMDI Harus Hadir Bantu Umat yang Tertimpa Musibah Musa Rajekshah Hadiri Mubes XI Pemuda Pancasila, Japto Soerjosoemarno Kembali Ditetapkan sebagai Ketua Umum